BERUSAHA DAN BERDO’A

BERUSAHA DAN BERDO’

Di atas dahan berdaun rimbun, sepasang kupu-kupu berkejaran mengikuti arus angin

Menunggu putik bunga-bunga yang akan lahir, dari pucuk musim semi kali ini

Sementara di bawahnya seekor merak yang cantik, menonjolkan seluruh keanggunannya, pada sang maestro yang baru berdiri di gerbang fajar

Selamat pagi duniaku, aku telah bangkit dari mimpi untuk mewujudkannya menjadi nyata, walau terkadang keadaan merundungi tekad

Aku tak ingin kembali ke pembaringan, mengabadikan impian semu di atas tempat tidur

Perjuangan untuk hidup akan terus menuntut, selama rongga dada masih menerima bayu menjadi tamu

Akan ada warisan dari setiap desiran darah-darah putih, mengalir menjadi wujud nyata, dan menobatkan tanggung jawab itu bertumpu pada diri

Jika sebagian besar cinta tulus itu untuk kehidupan, jangan berikan kesempatan mimpi tetap bermimpi

Biarkan laut selatan bergemuruh, meniupkan layar bahtera para nelayan, mencari sarang pemilik insang, biarkan tanah itu bergetar, membangkitkan pemegang fropesi untuk membangun pondasi kejayaan

Akan banyak mimpi yang bisa di beli, jika ambisi mampu menaklukkan sipat enggan

Teori-teori sederhanapun akan bernilai bila di sertakan dengan pelaksanaan

Sekeramat apapun sebuah do’a? tak akan pernah terkabul tanpa di selingi usaha yang nyata

Hidup tak pernah menyediakan pilihan untuk setiap keinginan, namun kita yang akan menentukan pilihan, berdiri kokoh di atas kaki sendiri, bukan seterusnya bergantung pada orang lain

Karena tak semua manusia memiliki jiwa yang bersosialisasi, bersedekahlah atas rejekimu yang lebih, kepada mereka yang layak menerimanya

Sebab mereka telah berusaha dan berdo’a tapi semua jalan mungkin telah tertutup.

SAJAK CEMBURU

Sajak cemburu

Aku selalu cemburu kepada banyak hal darimu

Aku cemburu pada pena yang kerap menari di jemarimu ketika ratusan diksi terpintal menjadi tenunan puisi.

Pena lebih akrab akan sentuhanmu daripada aku, walau katamu, aku adalah puisipuisimu, aku tetap saja cemburu.

Kamu bicara kepada angin, kepada awan, kepada embun, kepada halimun, dan juga kepada daundaun, pun kepada hujan dengan begitu mesranya, walau katamu, itu karena ketidakkuasaanmu memandang wajahku, aku tetap saja cemburu.

Berapa kerap aku cemburu pada cangkir kopi yang sedemikian sering dikecup oleh bibirmu?

Ini sajak cemburu paling gebu yang kutulis sebagai pelampiasan rindu yang terus saja mengombak di dadaku … tentangmu.

Abdulloh

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai